UPT Kementan Uji Coba Rice Transplanter Dorong dan Tarik, Dorong Modernisasi Tanam Padi

 

BBPP Batangkaluku, Gowa - Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku melaksanakan uji coba penggunaan rice transplanter dorong dan tarik sebagai upaya mendorong modernisasi pertanian dan meningkatkan efisiensi tanam padi, baru-baru ini, Senin (5/1).

 

Dalam uji coba tersebut, rice transplanter berukuran kecil dan tarik dinilai lebih efektif dan mudah dioperasikan di lahan sawah. Selain desainnya yang ringkas, alat ini juga mampu bekerja dengan lebih fleksibel pada berbagai kondisi lahan, sehingga sangat membantu petani dalam mempercepat proses tanam.

 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, modernisasi pertanian melalui teknologi, mekanisasi, dan penguatan petani menjadi kunci menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan di tengah tantangan global dan perubahan iklim.

 

"Modernisasi pertanian menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional," kata Mentan dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden Prabowo.

 

Hal senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa pertanian harus menjadi modern, tidak lagi konvensional.

 

“Kita juga harus merubah mindset, merubah pertanian kita yang tadinya konvensional menjadi pertanian modern. Ini adalah suatu keharusan, ini adalah suatu keniscayaan,” ujarnya.

 

Uji coba transplanter dipimpin langsung oleh Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani. Menurutnya, transplanter yang berukuran lebih kecil lebih efektif dan harganya juga lebih terjangkau.

 

"Sehingga ini bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang selama ini bingung dalam mencari buruh tanam," ujarnya.

 

Lanjut Jamal, Kementerian Pertanian terus melakukan inovasi-inovasi dan berharap alat ini bisa tersebar luas sehingga masyarakat tidak tergantung lagi dengan buruh tanam.

 

"Harapan kita setiap satu kelompok, paling tidak punya transplanter yang praktis, mudah digunakan, mudah maintenance, dan mampu menyelesaikan pertanaman untuk satu hektar dalam waktu 6 jam," harapnya.

 

Melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian yang praktis, terjangkau, dan mudah dioperasikan, diharapkan produktivitas tanam padi semakin meningkat, ketergantungan terhadap buruh tanam dapat ditekan, serta kesejahteraan petani semakin meningkat.